SELAMAT DATANG DI WEBSITE MADRASAH IBTIDAIYAH AL FATAH-MADRASAH MAJU, BERMUTU, MENDUNIA
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2016

Santri itu Bernama RA Kartini: Membaca Ulang Sejarah

Oleh Fathoni Ahmad
Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya itu, Raden Ajeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama MA Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Jumat, 29 April 2016

NU Minta Wilayah dan Cabang Shalat Ghoib dan Tahlil untuk KH Ali Mustafa

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut berduka cita yang sangat mendalam atas wafatnya Rais Syuriyah NU periode 2010-2015 KH Ali Mustafa Yakub, Kamis (28/4) pagi. Untuk itu pihak PBNU menginstruksikan pengurus seluruh wilayah dan cabangnya untuk melaksanakan shalat ghaib dan menggelar tahlilan untuk almarhum Kiai Ali Mustafa.

Sabtu, 16 April 2016

Fathul Majid, Karya Ulama Asal Palembang Akhir Abad XIX

Fathul Majid (Foto: http://www.nu.or.id/)
Al Fatah Online - Satu lagi koleksi langka kitab karangan ulama Nusantara yang ditulis dalam bahasa Arab dan terbit di Timur Tengah pada akhir abad ke-19 M adalah “Fathul-Majid ala Jauharatit-Tauhid”, karangan seorang ulama asal Palembang, Husain ibn Umar al-Falambani. Kitab tersebut berjudul. Kitab ini dicetak di Maktabah al-Syarq, Kairo (tanpa tahun).

Sabtu, 05 Maret 2016

KH R. As'ad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda

KH. R. As'ad Syamsul Arifin (Foto: http://www.nu.or.id/)
Oleh: Munawir Aziz,Kiai Raden As'ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi'ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As'ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka'bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi'ib Ali dan Ka'bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama As'ad.

Minggu, 28 Februari 2016

Debat Teologi KH Wahab Chasbullah dengan Gubernur Hindia Belanda

KH. Wahab Chasbullah (Foto: http://www.nu.or.id/)
Dalam suatu kesempatan diplomasi antara Van der Plas (Gubernur Hindia Belanda untuk wilayah Jawa Timur sebelum Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942) dengan KH A Wahab Chasbullah, diceritakan sebelum masuk ke pembicaraan inti, Van der Plas terlebih dahulu hendak menguji kecakapan Kiai Wahab Chasbullah dalam bidang teologi. 
Ia mengajukan satu pertanyaan  dan lewat pertanyaan ini ia menduga Kiai Wahab akan terperangkap pada pertanyaan pembuka tersebut.

“Kiai, menurut Kiai lebih enak dan nyaman mana antara bernaung di bawah pohon hidup dengan bernaung di bawah pohon yang mati,” tanya Van der Plas.
Demi mendengar pertanyaan di atas, Kiai Wabab langsung paham, bahwa yang dimaksud dengan “pohon mati” dan “pohon hidup” dalam kalimat pertanyaan tersebut bukanlah arti harfiah atau makna hakiki yang dikehendaki Van der Plas, melainkan arti majazi, ada makna tersirat dalam kalimat tersebut yang sengaja disajikan secara implisit untuk menjebaknya di awal pembicaraan.

Sabtu, 20 Februari 2016

Saat Rasulullah Dicekik dan Dilempari Kotoran Binatang


Rasulullah bukan sosok pemarah. Banyak yang mencoba mengejek, menyakiti dan melukai, tapi Rasulullah tidak menanggapi dengan api amarah. Rasulullah kadang malah membalas dengan kasih berlebih. Begitu pun ketika si Badui kurang ajar itu mengasarinya. <>Rasulullah tengah berjalan bersama Anas bin Malik, ketika tiba-tiba Arab Badui itu menarik selendang Najran di kalungan lehernya.
Begitu kerasnya tarikan si Badui, Nabi pun tercekik. Anas, seperti tercatat dalam Shahih al-Bukhari, sempat melihat bekas guratan di leher Nabi.

Rabu, 17 Februari 2016

Sidogiri Berduka Mengiringi Kepergian Sosok KH. Muhammad Kholil Rochman bin Abd. ‘Alim

Al Fatah OnlineKamis dini hari (04/02) ketika para santri Pondok Pesantren Sidogiri sedang menikmati bunga-bunga mimpi indah dalam tidur pulasnya sembari melepaskan kepenatan dan keletihan. Setelah menjalani berbagai kegiatan pesantren sepanjang hari. Saat itu, jarum jam masih menunjukkan pukul 03.00 Wis. Tiba-tiba, deringan bel menggema dan membahana di  seantero pesantren. Merubah kesunyian menjadi kegaduhan dengan lalu lalang santri. Mereka tampak tergopoh-gopoh menuju ke masjid jamik Sidogiri. Seakan ada tragedi duka yang menimpa Keluarga Besar Pondok Pesantren Sidogiri.
Tak lama setelah bel dipencet,  kabar dari lidah ke lidah antar santri bahkan dari alumni ke alumni. Membuat mata yang bersarang di pelupuk mata sirna seketika, air mata pun mengalir seraya lidah malafalkan Innâlillahi wa innâ ilaihi râjiûn. Kabar duka menimpa Pondok Pesantren Sidogiri. Salah satu keluarga besar pondok  pesantren Sidogiri (PPS) berpulang kerahmatullah. Mas HM. Kholil Rochman bin Abd. ‘Alim  (Mas Muhammad) putra alMaghfirullah KH. Abd ‘Alim bin Abd Djalil bin Fadil wafat. Beliau wafat pukul 02.50 Wis di RS Jember Klinik Jember.

Kabar Duka: Pendiri Pagar Nusa KH Abdurrahman Utsman Wafat

KH Abdurrahman Utsman (kiri) bersama sang anak, H Aizuddin Abdurrahman (Foto: http://www.nu.or.id/)

Al Fatah OnlineInnâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Salah satu tokoh yang berperan dalam proses pendirian Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa KH Abdurrahman Utsman meninggal dunia di RSUD Jombang, Jawa Timur, Rabu (17/2), pukul 02.30 WIB.

Jumat, 12 Februari 2016

KIAI HAMID BUKAN "WALI TIBAN"


Oleh A Mustofa Bisri

Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang). Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Medinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’—memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan kurban perawan seperti semula—sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminien ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.). Namun manakibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi. 

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa shahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H.–13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Shahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan. Shahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maatwaman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain. Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabt yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga? 

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawasul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni. 

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qiraah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe. Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu. 

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu. 

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau. Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana. Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan. Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini. 

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra. Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid–rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi. 

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri. 

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis. Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin. 

Rembang, 1 Shafar 1424

Tulisan ini merupakan kata pengantar KH A Mustofa Bisri atas buku biografi Almarhum KH A Hamid Pasuruan, dan dipublikasikan di dinding akun facebook miliknya.

Selasa, 09 Februari 2016

Ini Rahasia Larisnya Kamus Al-Munawwir

Al Fatah OnlineKamus al-Munawwir. Siapa yang tak mengenalnya? Kamus legendaris Arab-Indonesia setebal 1591 halaman tersebut menjadi rujukan hampir seluruh santri di Indonesia. Kamus ini bisa dianggap sebagai kamus Arab-Indonesia terlengkap. Sejak diterbitkan tahun 1997, kamus tersebut sudah dicetak sebanyak 22 kali dengan tingkat penjualan dalam setahun mencapai 20.000 eksemplar. Dengan tingkat penjualan sebanyak itu, bisa dikatakan bahwa kamus yang ditulis oleh KH. A. Warson Munawwir, adik dari KH. Zainal Abidin Munawwir tersebut laris manis di pasaran. 

Larisnya kamus al-Munawwir di pasaran tidak serta merta terjadi. Sebab, itu semuanya ada rahasianya. Lalu apa rahasianya?

Kisah ini diceritakan oleh sahabat karib sekaligus rekan organisasi Kiai Warson Munawwir, H. Iskandar beberapa waktu lalu ketika ditemui penulis di Auditorium Gedung Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY).

Ketika Kiai Warson masih hidup, sebagai sahabat karib, H. Iskandar sering berkunjung ke kediamannya untuk tetap menjaga tali silaturahim. Suatu ketika, saat H. Iskandar bertamu, ia diberitahu oleh istri Kiai Warson, Nyai Khusnul, terkait keanehan penjualan kamus yang ditulis suaminya tersebut. 

Tak rasan-rasan, nek niat neng ati arep tuku ngene, tuku ngono nganggo duwit dodolan kamus, kamuse ndadak ora laku. Tapi nek diniati duwite digawe bangun pondok, kok kamuse laris banget (Rasa-rasanya, kalau di hati ada niat mau beli ini beli itu dengan menggunakan uang hasil penjualan kamus, penjualan kamusnya tiba-tiba menurun alias tidak laku. Tetapi kalau niatnya uang hasil penjualan kamus dibuat bangun pondok, itu kamusnya laris sekali),” ujar H. Iskandar menirukan ucapan Nyai Khusnul. 

Pada akhirnya, sejarah memang membuktikan bahwa Pondok Pesantren al-Munawwir Kompleks Q, yang didirikan oleh Kiai Warson, dibangun hanya dengan menggunakan uang hasil penjualan kamus al-Munawwir, bukan dari lain-lainnya. 

Kisah menakjubkan tersebut sesungguhnya sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamyang berbunyi, "Amal itu tergantung pada niat. Innamal a‘mâlu bin niyyât."  Jadi, ketika akan melakukan sesuatu, utamakanlah niatnya. Semoga bermanfaat. (Nur Rokhim)


IMLEK DATANG, GUS DUR DIKENANG

Al Fatah OnlineBangsa Indonesia tidak akan pernah lupa terhadap jasa-jasa kemanusiaan yang telah banyak dirintis dan diwujudkan oleh Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Khusus di hati orang Indonesia beretnis Tionghoa, Gus Dur merupakan manusia istimewa karena telah menempatkan mereka sejajar dengan etnis lain di Indonesia setelah puluhan tahun dimarjinalkan oleh Orde Baru, baik dalam beribadah maupun merayakan Imlek.

Memperjuangkan kemanusiaan seseorang atau kelompok orang yang tertindas memang sudah menjadi ruh perjuangan Gus Dur. Bahkan, Gus Dur telah meletakkan dasar bahwa orang Tionghoa secara terbuka boleh merayakan Hari Raya Imlek. Selain itu, Gus Dur juga ikut berjasa dalam menempatkan Konghucu sebagai salah satu agama resmi negara selain Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha.

Tidak berbeda dengan tahun-tahun terdahulu, dalam perayaan Imlek kali ini, warga Indonesia khususnya warga Tionghoa begitu mengapresiasi perjuangan dan jasa Gus Dur. Apresiasi tersebut banyak diungkapkan mereka di klenteng-klenteng hingga di media sosial. Sehingga “Gus Dur” pun naik menjaditrending topic di twitter hari ini. Bahkan di salah satu Klenteng tertua di Surabaya, Boen Bio hanya ada satu foto yang terpampang, yaitu foto Gus Dur.

Tribute untuk Gus Dur diantaranya datang dari komedian Ernest Prakasa dalam akun twitternya @ernestprakasa. Salah satu komedian berketurunan Tionghoa ini mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur yang dulu telah mencabut peraturan yang melarang aktivitas warga Tionghoa di Indonesia.

“Terima kasih Gus Dur yang tahun 2000 lalu mencabut Inpres Nomor 14/1967 Suharto tentang larangan perayaan Imlek. Hidup kami kini lebih menyenangkan,” ungkap Ernest Prakasa yang tadi pagi pukul 08.30 WIB bincang Live di Metro TV bareng salah satu Putri Gus Dur, Inayah Wahid.

“Selamat hari raya imlek bagi yang merayakannya. Terima kasih Gus Dur. Semoga kita semua diberi kesehatan dan rezeki yang mengalir deras, amin,” tulis akun bernama @sidewii.

“Mengenang Gus Dur, dan mereka yang terampas kebebasannya. Happy Imlek, kawan,” kicau akun @johanesjonaz.

“Imlek begini saya jadi ingat Gus Dur tahun 1999. Cuma Gus Dur yang akui hak masyarakat Hoakiau dengan bolehkan imlek diadakan lagi. Respek,” cuit Damar Juniarto dalam akunnya @DamarJuniarto.

Selain akun-akun twitter di atas, ribuan akun lain juga turut mengenang dan memberikan apresiasinya kepada Gus Dur. Hal ini tidak hanya berlangsung di twitter, tetapi juga ramai di Facebook. Adapun Imlek tahun 2016 ini memasuki angka 2567 yang menurut perhitungan astrologi China adalah tahun Monyet dengan unsur api. (Fathoni)

Senin, 08 Februari 2016

BUKU KETELADANAN SOSOK PARA GURU MADRASAH INSPIRATIF

Buku Keteladanan:
Sosok Para Guru Madrasah Inspiratif
(http://www.pendidikanislam.id/pustaka/190-190)
Al Fatah Online - Kementerian Agama (Kemenag) terus berusaha turut membenahi sistem pendidikan Islam. Salah satunya dengan meluncurkan buku refrensi buat para guru. Kemenag meyakini buku berjudul 'Madrasah Mencetak Generasi Emas' dan 'Keteladanan Sosok Para Madrasah Inspiratif' itu akan jadi inspirasi para guru dalam mendidik. Dua buku tersebut resmi di launching pihak Direktorat pendidikan Madrasah Kemenag di Hotel Mercure Kota Jakarta Pusat, Senin (14/12). Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin hadir dalam peluncuran buku inspiratif tersebut. "Kebajikan para guru itu perlu kita catat,  agar ini menjadi teladan bagi seluruh guru dan siswa Madrasah se-Indonesia," tutur Kemenag seperti dikutip monitorday.com. Lebih lanjut Menag mengatakan, peluncuran buku ini juga diharapkan bisa memotivasi para guru. Agar kedepan lebih banyak guru dan siswa yang bisa menginspirasi semua orang.

Buku setebal 348 halaman ini berupaya memberikan inspirasi kepada para pendidik di sekolah dan madrasah melalui kisah-kisah teladan para guru dan kepala madrasah. Bahkan bukan hanya mengemukakan keteladanan, para sosok guru dalam buku ini juga menopang keteladanan dengan prestasi membanggakan.Buku setebal 348 halaman ini berupaya memberikan inspirasi kepada para pendidik di sekolah dan madrasah melalui kisah-kisah teladan para guru dan kepala madrasah. Bahkan bukan hanya mengemukakan keteladanan, para sosok guru dalam buku ini juga menopang keteladanan dengan prestasi membanggakan.

Melalui berbagai penemuan dan penelitian yang dilakukan 25 guru teladan dalam buku ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI berupaya mempublikasikan prestasi dan keteladanan sehingga diharapkan mampu menginspirasi para guru madrasah di berbagai daerah di Indonesia.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pengantarnya dalam buku ini mengatakan, keberhasilam pendidikan Islam tak bisa dilepaskan dari kiprah para guru dan kepala madrasah. Mereka gigih menjalankan tugas demi menghasilkan lulusan-lulusan terbaik. Buku ini, lanjut Menag, cukup memberikan gambaran mengenai berbagai kreasi dan inovasi yang telah dilakukan oleh para guru dan kepala madrasah. (halaman xv)
Jelas para guru dan kepala madrasah tidak hanya sekadar memberikan materi pelajaran demi mencapai beban kurikulum. Tetapi mereka juga harus senantiasa berinovasi, baik dalam menyusun materi pembelajaran, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran. Kompetensi holistik ini minimal ada pada diri para guru sehingga siswa mampu menyerap materi dengan baik.


Sumber: diolah dari berbagai sumber

Sabtu, 06 Februari 2016

Pemimpin Pemaaf

Al Fatah Online - Ka’b Ibn Zuhair penyair Arab kenamaan adalah penyair dari keluarga penyair. Ayahnya, Zuhair; kakeknya, Abu Sulma; kedua bibinya Khansa dan Sulma; saudaranya, Bujair; kedua sepupunya Tamadhir dan Shakhr; keponakannya, ‘Uqbah Ibn Bujair; dan cucunya, ‘Awwam Ibn ‘Uqbah; kesemuanya adalah penyair terkenal di zaman Jahiliyah.
Ketika Nabi Muhammad SAW mendakwahkan keesaan Tuhan dan dimusuhi oleh kaumnya yang bertuhan banyak, Ka’b adalah salah seorang di antara sekian banyak penyair yang gigih melawan Nabi dengan syair-syairnya. Rasulullah SAW dan kaum muslimin menjadi bulan-bulanan puisi-puisi hijaa-nya.
Pada saat kaum muslimin menaklukkan Mekkah pada tahun 8 Hijriyah, Ka’b termasuk salah satu musuh kaum muslimin yang melarikan diri. Sampai saudaranya, Bujair, menyarankan kepadanya agar ia menemui Rasulullah SAW. Bujair meyakinkannya bahwa siapa yang datang kepada Rasulullah dan mengaku salah, pasti akan diampuni.
Begitu Ka’b datang menghadap Rasulullah SAW beberapa orang Ansor langsung berdiri ingin menghajarnya. Tapi seperti biasa, Rasulullah SAW dengan sareh mencegah mereka dan mendengarkan penyair itu menyatakan penyesalannya. Melihat ketulusan Ka’b dalam penyesalan dan tobatnya, Rasulullah SAW pun mengampuninya. Bahkan ketika Ka’b membacakan puisinya Banaat Su’aad, Rasullah SAW menghadiahinya burdah, semacam mantel bulu.
Sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW memang dikurniai sifat penyayang dan pemaaf. Tuhannya memang merahmatinya untuk menjadi demikian. Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah berfirman kepada utusannya itu: “Fabimaa rahmatin minaLlaahi linta lahum…” (Q. 3: 159) “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau kasar dan berhati kaku, tentulah mereka akan lari menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka tentang urusan (kalian). Kemudian bila kamu sudah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal. ”
Berapa banyak tokoh-tokoh kafir Mekkah yang sebelumnya begitu sengit memusuhi Rasulullah SAW, ketika beliau dan kaum muslimin menaklukkan Mekkah, diampuni oleh Rasulullah SAW.
Dulu waktu kejam-kejamnya orang Arab menyakiti Rasulullah SAW dan malaikat meminta beliau berdoa bagi kehancuran mereka, Rasulullah SAW malah berdoa penuh kasih sayang, “Ya Allah berilah kaumku petunjuk; mereka tidak mengerti.”
Secara lahiriah, seandainya sikap Rasulullah SAW tidak penyayang dan pemaaf, pastilah Abu Sufyan Ibn Harb pemimpin orang-orang kafir Mekkah; istrinya Hindun yang pernah mengunyah-ngunyah jantung sayyidina Hamzah; Khalid Ibn Walid; ‘Amr Ibn ‘Ash; ‘Ikrimah Ibn Abi Jahal; dan banyak lagi tokoh-tokoh kafir lainnya yang semula memusuhi Raasulullah, tidak akan menjadi muslim-muslim yang baik dan pahlawan-pahlawan Islam.
Dalam hadis-hadis sahih, banyak kita dapati kisah-kisah yang menunjukkan betapa Nabi Muhammad SAW dalam kesehariannya; baik dalam keluarga maupun dalam pergaulan kemasyarakatannya, sangat menonjol sifat-sifat kemanusiaannya. Beliau lemah-lembut kepada siapa saja, penyayang, pemaaf, dan murah hati kepada sesama. Beliau tidak menyukai kekasaran dan kekerasan.
Sebagi gambaran, pernah datang orang-orang Yahudi dan mengatakan “Assaam ‘alaikum” (Semoga kematian bagimu). Rasulullah SAW pun menjawab: “Wa’alaikum;” sementara sayyidatina ‘Aisyah r.a. isteri beliau yang mendengar ucapan Yahudi itu menjawab, “’Alaikumus saam wal la’nah!” (Semoga kematian dan laknat bagi kamu!”)
Rasulullah SAW pun menegur isterinya, “Tenanglah, ‘Aisyah; jangan kasar begitu!” Istrinya masih menjawab, “Apa Rasulullah tidak mendengar ucapan mereka?” Dengan lembut Rasulullah SAW bersabda, “Aku mendengar, dan aku sudah membalasnya dengan mengatakan ‘Wa’alikum’ (Dan juga kamu).”
Oleh Ahmad Mustofa Bisri
Sumber: http://www.nu.or.id/ dikutip Facebook Ahmad Mustofa Bisri 

Selasa, 02 Februari 2016

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo


Al Fatah OnlineMenyimak sejarah kehidupan seorang tokoh besar itu sepertinya tiada habisnya, selalu mengalirkan inspirasi baru dan pelajaran penuh makna. Apalagi yang dibicarakan adalah tokoh ulama atau kiai besar. Satu di antara sekian banyak tokoh ulama di Indonesia itu adalah al-maghfurlah KH Mahrus Ali (wafat 1985),<> pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo generasi kedua, menantu dari KH Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Artikel singkat ini hanya bermaksud menyajikan sepenggal fragmen kecil dari sekian banyaknya fragmen kehidupan KH Mahrus Ali yang meninggalkan begitu banyak keteladanan bagi generasi setelahnya. Oleh karena itu sesuai judul di atas, di sini sekadar hendak membabarkan bagaimana strategi atau metode belajar Kiai Mahrus Ali berdasarkan penuturan beberapa saksi sejarah yang masih menjumpai (menangi) beliau.

Salah satu murid dekat beliau, yaitu KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bercerita bahwa Kiai Mahrus Ali ketika belajar di pondok menggunakan sistem nazar. Misalnya, membuat komitmen pada diri sendiri, seperti, "saya tidak akan keluar kamar sebelum hafal Alfiah, saya tidak akan pakai baju, sebelum menguasai materi bab ini, dan begitu seterusnya".  
Almaghfurlah KH A Idris Marzuki saat diwawancarai tim penulis buku Pesantren Lirboyo,

Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, tahun 2010, menguatkan pernyataan yang disampaikan Gus Mus di atas. Beliau menuturkan bahwa Kiai Mahrus Ali itu sangat kuat dalam memaksa dan menahan diri supaya bisamempeng (sangat tekun belajar). Kiai Mahrus mereka-reka sendiri, menciptakan pula metode sendiri dalam belajar. Saat masih nyantri, Mbah Kiai Mahrus membangun sebuah kamar yang didesain supaya jika beliau sudah memasukinya akan kesulitan keluar dari ruangan itu. Hal tersebut ia lakukan agar benar-benar dapat fokus muthalaah dan belajar. Jadi model beliau menguasai suatu disiplin ilmu di antaranya seperti itu. Semua keinginan hawa nafsunya ditahan sedemikian rupa.

Selain itu, KH. Yasin Asmuni, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Tullab Petuk Semen Kediri, juga memiliki kenangan khusus saat ia dahulu ikut ngaji dengan Mbah Kiai Mahrus. Kiai Mahrus ketika mengaji, kata Kiai Yasin,  seperti halnya seorang syaarih (komentator kitab). Tidak jarang beliau mengatakan,wahadza dha'ifun, wa hadza mu'tamadun (pendapat ini argumentasinya lemahdan pendapat yang ini kokoh argumentasinya). Bahkan kala itu beliau kerap curiga dengan redaksi yang ada dan mengatakan la'alla showab begini.
Di lain sisi, tambah KH. Yasin Asmuni, setiap beliau menyebut nama mushannif (pengarang kitab), pasti doarahimakumullah selalu beliau lantunkan. Itu menandakan betapa penghormatan Kiai Mahrus Ali pada seorang guru begitu besar.

Selanjutnya, Kiai Mahrus Ali dikenal juga sebagai kiai yang suka ikut ngaji pasaran di Bulan Ramadahan ke berbagai pondok pesantren. Bahkan budaya ikut ngaji pasaran ini tetap beliau jalankan meskipun sudah menjadi kiai kharismatik dan mempunyai anak.

Sementara itu, menurut KH Anwar Mansur, menantu Kiai Mahrus, keteladanan Mbah Kiai Mahrus yang perlu kita ikuti adalah kemempengannya (kesungguhannya) dan proporsionalitas serta konsistensi beliau dalam mengatur dan menggunakan waktu. Aktivitas keseharian beliau dijadwal secara teratur. Mulai waktu untuk istirahat, untuk shalat tahajud, waktu muthalaah (mengkaji ulang pelajaran), sampai waktu khusus yang dialokasikan untuk mengulang pelajaran sehabis shalat Subuh. Bagi Mbah Mahrus,waktu merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya, sehingga beliau seproporsional mungkin dalam mengatur waktu. Jadi ada waktu-waktu khusus yang beliau alokasikan seperti waktu untuk menghapal jam berapa, waktu nderesjam berapa, serta waktu istirahtpun beliau perhatikan.

Demikian selintas dari sebagian metode dan karakter KH Mahrus Ali ketika belajar dan mengaji. Salah satu nasihat bijak masyayiikh (guru-guru sepuh) menyatakan, "melihat seorang tokoh besar itu jangan cuma ketika ia telah menjadi tokoh besar (nihayah) saja, tetapi lihat pula bagaimana mereka saat menjalani proses panjang (bidayah) sebelum mereka sukses dan berhasil menjadi seorang tokoh." Spirit maqalah itu pula yang kami tuju dari tulisan pendek sederhana ini. 

Oleh M. Haromain, alumnus MHM Lirboyo 2010, dan anggota tim penulis buku “Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, terbit 2010 pada peringatan satu abad PP. Lirboyo. Data dalam tulisan ini diambil dari buku tersebut.

Sabtu, 30 Januari 2016

KH TOLCHAH HASAN, SOSOK KYAI ORGANISATOR

Al Fatah Online - Prof Dr KH Muhammad Tolchah Hasan dilahirkan di Tuban Jawa Timur pada 1936, atau 79 tahun silam. Ia merupakan seorang tokoh yang multi dimensi, sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi yang tekun dan juga seorang tokoh yang aktif di pemerintahan.<>
Sebagai seorang ulama, ia adalah sosok dengan keilmuan yang mendalam. Penguasaannya terhadap teks-teks agama ditunjukkan dengan aktivitasnya mengajar di pondok pesantren dan di berbagai perguruan tingi. Sebagai seorang tokoh agama ia juga mampu menciptakan pemikiran-pemikiran segar dalam pemahan terhadap agama. Buku populer yang ia tulis (disamping banyak karya yang lain) adalah “Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi NU.”
Perannya sebagai ulama juga ditunjukkan dengan eksistensi Masjid Sabilillah di Singosari Malang yang dibangun bersama salah seorang founding father NKRI, KH Masykur. KH Masykur menunjuk Kiai Alumni Tebuireng ini sebagai ketua panitia pembangunan masjid itu. Kiai Tolchah mampu mengembangkan Masjid Sabilillah menjadi sebuah masjid yang tidak hanya menonjol sebagai tempat ibadah, melainkan tempat pengembangan masyarakat dengan memberdayakan masjid berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hal ini dutunjukkan dengan adanya sekolah mulai tingkat dasar sampai lanjutan, kegiatan sosial ekonomi dengan adanya Laziz Sabilillah, Poliklinik sebagai pusat kesehatan Masyarakat. Semuanya itu dikelolah dengan baik dibawah Masjid Sabilillah. Hal demikian ini menunjukkan bahwa KH Tolchah mampu mengembangkan masjid sebagai pusat peradaban seperti masa lalu.
Sebagai tokoh pendidikan, kepiawaiannya ditunjukkan dengan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan yang ia rintis dan ia kembangkan. Tercatat bahwa sejumlah lembaga yang dia rintis dan ia kembangkan mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tumbuh maju dan pesat. Lembaga-lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) yang membawahi lembaga-lemabaga mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA, MA dan SMK, adalah lembaga-lembaga pendidikan yang ia rintis dan ia kembangkan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang maju saat ini di kabupaten Malang. Demikian pula halnya dengan Universitas Islam Malang (Unisma), sebuah universitas dimana ketika Kiai Tolchah menjadi rektornya, menjadi Perguruan Tinggi Percontohan Nahdlatul Ulama.
Demikian pula karakternya sebagai organisator. Kiai Tolchah merupakan Kiai yang juga tekun dalam masalah organisasi. Kegiatannya dalam organisasi yang dimulai semenjak di tebuireng ia kembangkan dalam Organisasi NU. Semenjak muda ia sudah pernah menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pimpinan Cabang Kabupaten Malang pada era tahun 1960-an. Kelihaian dan ketekunannya dalam berorganisasi juga tampak dari lembaga-lembaga pendidikan yang ia bidani terorganisir secara sistematis dan rapi. Kiai Tolchah juga terlihat kemampuan baiknya dalam melakukan kaderisasi. Semua lembaga yang dirintisnya sudah dilepasnya untuk diserahkan kepengurusannya kepada tenaga-tenaga yang lebih muda.
Perannya dalam pemerintahan ia tunjukkan dengan pengalamannya sebagai Menteri Agama di era Gus Dur, dan ia juga pernah menjabat sebagai Badan Wakaf Indonesia (BWI). Di PBNU, KH Tholhah Hasan pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi KH Sahal Mahfudh. (Achmad Nur Kholis/Anam)

Sabtu, 23 Januari 2016

KH Masjkur, Komandan Barisan Sabilillah

Satu dari sekian tokoh dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang layak disematkan gelar pahlawan adalah KH Masjkur (baca: Masykur). Kiai Masjkur yang pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI ini ikut berjuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah dan terdaftar sebagai salah satu “the founding father”.<>

Perjuangan ulama yang lahir di Singosari Malang tahun 1899 M/1315 H ini telah dirintis sejak usia muda di bidang pendidikan, dengan mendirikan Pesantren Misbahul Wathan. Namun, sebelum mendirikan pesantren dan terjun ke masyarakat, Masjkur muda terlebih dahulu telah mempersiapkan modal awal bagi dirinya sendiri, dengan mengenyam pelajaran agama di beberapa pesantren dengan berbagai konsentrasi keilmuan, antara lain Pesantren Kresek Cibatu, Pesantren Bungkuk Malang di bawah asuhan Kiai Thohir, Pesantren Sono Bundaran Sidoarjo untuk belajar nahwu sharaf dan di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo untuk memperdalam ilmu fiqih.

Kemudian, di Tebu Ireng Jombang, ia menimba ilmu hadist dan tafsir dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Selain itu, Masjkur muda juga pernah berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Maka lengkap sudah, modal awal yang dimilikinya untuk menjadi seorang calon ulama dan pemimpin umat.

Ia juga sempat menjadi santri di Pesantren Jamsaren Surakarta, di bawah asuhan KH Idris, seorang kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di pesantren ini pula, ia bertemu dengan kawan-kawannya yang kelak juga menjadi pemimpin umat, antara lain KH Mustain (Tuban), KH Arwani Amin (Kudus) dan sebagainya. Sifat Kiai Idris yang terkenal non-kooperatif terhadap Belanda, ikut tertanam dalam jiwa sang murid, yang sedikit banyak mulai memahami arti penting perjuangan.

Mendirikan Pesantren

Setelah melanglangbuana ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu, ia kembali ke Singosari dan di sana ia membuka pesantren yang diberi nama Misbahul Wathan (Pelita Tanah Air) pada tahun 1923.

Beberapa tahun berikutnya, ketika Nahdlatul Ulama berdiri, ia pun ikut aktif di dalamnya, dan di tahun 1932 ia sudah menjadi Ketua Cabang NU Kota Malang. Di organisasi tersebut, ia sering meminta nasihat kepada KH Wahab Chasbullah. Salah satunya, ketika pesantren yang ia pimpin sering mendapat gangguan dari pemerintah kolonial. Atas saran Kiai Wahab pula, ia kemudian mengganti nama pesantrennya menjadi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Sebelumnya, bersama Kiai Wahab, Kiai Masjkur juga sering mengikuti kegiatan kelompok Tashwirul Afkar yang sering membahas agama, dakwah dan sosial.
Pada tahun 1938, Masjkur diangkat sebagai salah satu Pengurus Besar NU yang berkedudukan pusat di Surabaya.

Perjuangan Perang

Keinginan untuk terbebas dari belenggu penjajahan, membuat para putera bangsa ini ikut mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan. Termasuk, Kiai Masjkur yang kala itu masih aktif sebagai seorang pengajar di Nahdlatul Wathan dan aktivis NU.

Pada zaman pendudukan Jepang, Masjkur menjadi utusan dari Karesidenan Malang untuk mengikuti latihan kemiliteran di Bogor, disusul dengan latihan khusus bagi ulama. Dari itulah, “karirnya” di bidang militer dimulai. Ia berjuang bersama pasukan Hizbullah. Hingga, sejak 1945-1947 ia diangkat menjadi Ketua Markas Tertinggi Sub. Bagian Sabilillah yang berpusat di Kota Malang.

Belakangan, ia juga ikut dimasukkan dalam Dewan Pertahanan Negara dan anggota Konstituante.

Dalam suasana perang yang tengah berkecamuk, Masjkur beberapa kali dipercaya untuk mengemban amanah Menteri Agama (Menag), secara berturut-turut pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), Kabinet Presidenssil Moh. Hatta (1948), Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI (1949), Kabinet Hatta (1949) dan Kabinet Peralihan RI. Ia sempat mundur dari posisi Menag, karena sakit-sakitan akibat bergerilya. Pada masa Kabinet Ali-Arifin (1953-1955) ia kembali dipercaya untuk menjadi Menag.

Alhasil, ketika menjadi seorang menteri, ia juga ikut bergerilya bersama para pejuang lainnya (pernah pula bergabung bersama kelompok gerilyawan yang dipimpin Panglima Besar Soedirman), sembari tetap mengatur jalannya kementrian yang ia pimpin, mulai dari soal instruksi serta peraturan darurat. Kemudian juga menyusun KUA, pengadilan agama, pendidikan, madrasah, mengatur shalat, dan membantu secara nyata perjuangan nasional.

Sebagai Menag, tiap bulan ia mendapat gaji Rp. 300 Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), jumlah uang yang saat itu cukup untuk makan sekeluarga selama sepekan.

Saat kembali menjadi Menag, di tahun 1954 Kiai Masjkur memprakarsai Konferensi Ulama yang diadakan di Cipanas Jawa Barat. Pertemuan para ulama tersebut, salah satunya menetapkan gelar “Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah” (pemegang pemerintahan dalam keadaan darurat dengan kekuasaan penuh) untuk Presiden Soekarno. Penetapan tersebut berdasar pada pertimbangan syara’, yakni Presiden RI saat itu terpilih belum memperoleh “baiat” dari rakyat karena tidak dipilih melalui Pemilu. Penetapan itu sekaligus menghapus kecurigaan dari golongan tertentu, apakah umat Islam Indonesia mengakui kepemimpinan Soekarno (RI) atau Kartosuwiryo (DI/TII).

Memimpin NU

September 1951, menjelang dilaksanakannya Muktamar NU ke-19 yang akan dihelat di Palembang, Saat itu NU masih masuk dalam Masyumi, PBNU membentuk sebuah badan yang bernama Majelis Pertimbangan Politik (MPP) PBNU, terdiri dari 9 ulama, termasuk di dalamnya Kiai Masjkur. Badan tersebut dibentuk dalam sebuah rapat PBNU yang diadakan di sebuah rumah milik KH Abdulmukti, Jl. Slamet Riyadi 45 Solo.

Kemudian, Muktamar NU ke-19 digelar 26 April – 1 Mei 1952 dan menghasilkan sebuah keputusan penting : NU memisahkan diri dari Masyumi!

Sejak Muktamar NU ke-19, Kiai Masjkur memimpin NU sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. bersama KH Wahid Hasyim yang menjadi Ketua Muda. Sedangkan posisi Rais ‘Aam masih dipegang KH Wahab Chasbullah.

Namun, setelah wafatnya KH Wahid Hasyim serta diangkatnya KH Masjkur kembali menjadi Menteri Agama, maka PB Tanfidziyah sehari-hari dipimpin oleh KH M Dahlan.

Kiai Masjkur terus berjuang bersama NU hingga akhir hayatnya. Tercatat selepas menjadi ketua, ia tetap aktif di kepengurusan PBNU yakni anggota tanfidziyah (1954-1956), Ketua Fraksi Konstituante Partai NU (1956-1959), Ketua Sarbumusi (1959-1962), Rais Syuriyah (1967-1971, 1971-1979) dan Mustasyar (1984-1989, 1989-1994). Hingga wafat pada tahun 1992, Kiai Maskjur masih tercatat dalam kepengurusan Mustasyar PBNU.

Kiai Masjkur dimakamkan di pemakaman yang terletak di kompleks Masjid Bungkuk Singosari Malang, yang juga terdapat makam KH Nahrawi Thohir dan Kiai Thohir. Lahumul-fatihah! (Ajie Najmuddin)

*Foto bersumber dari buku Aboebakar Atjeh tentang Sejarah Hidup KH A Wahid Hasjim. Foto ini belum banyak beredar.


Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/61781/kh-masjkur-komandan-barisan-sabilillah